Secuil goresan nasihat untukku, untuk mu dan kita semua.

Ya Bunaiya (wahai anakku)

Larilah nak, sejauh kaki bisa melangkah, tp ingat ada masa nya kau harus berhenti, krn daya diri ini sngat trbatas jangkauan nya.

Tataplah kedepan sejauh mata bisa memandang, tapi ingat nak, ada kalanya kamu harus melihat kebawah agar tak jumawa merasa lebih tinggi dr yg lain, menoleh kebelakang agar tak merasa diri lebih cepat dr yang lain.

Menjadi orang baik itu harus, tapi merasa diri lebih baik dr orang lain, itu tidaklah baik nak.
Apalagi sudahlah tak baik, merasa diri lebih baik pula..🙂

Sejauh mana kamu berlari, jgn lupa kekurangan diri. Sejauh mana kamu memandang, jangan lupa toleh dan lihat lah ke sekelilingmu, agar ‘ujub tak hinggap di hati.

Nak, jalan ini taklah selalu indah. Kau akan temui jalan yg terjal dg kerikil nya, tak jarang pula jalanan itu curam dg pendakian dan penurunan nya. Belum lagi akan bnyak lobang yang harus kamu hindari.

Nakk, sehebat apapun kamu kelak, kamu tetaplah hanya seorang manusia yang begitu lemah di hadapan Dia yang maha kuasa atas setiap jengkal kehidupanmu.

Jadikanlah Allah sebgai tujuan dalam setiap langkahmu nak, krn hidup ini seumpama menanam padi disawah. Jika kau tanam padi, maka rumput akan ikut tumbuh bersamanya. Tapi jika yg kau tanam rumput, manalah mngkin padi akan turut tumbuh.

حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
“Cukuplah Allah sebagai tempat diri, sebaik pelindung dan sebaiknya penolong bagi kita”

Mawardi, S.Sy, M.H. (Penulis adalah dosen tetap sekaligus Ketua Prodi Hukum Keluarga (S1) IAILE)

Tinggalkan Balasan