Pandangan Lelaki

Suatu ketika, saat berada dalam angkot putih, yang biasa mengantar jemput kami dari rumah ke sekolah, aku asik memperhatikan area sekitar sambil menyedot teh yang bercampur dengan es batu. “Ah…Segar sekali air ini”, gumamku dalam hati.

“Eh, itu cewek awak mau lewat!” Ucap Rangga. Teman satu angkot ku. Atensiku dan beberapa orang dalam angkot teralih menatap perempuan yang Rangga tunjuk dari kaca angkot. “Shintya!” Panggil Rangga sembari bersiul menggoda, “Kiw..Kiw…”. Sorakan heboh dari beberapa laki-laki lainnya menambah keributan dalam angkot.

“Beneran cewek kamu, Ngga?” Tanya ku hamper tak percaya. Aku tahu Shintya sudah punya pacar, namun bukan Rangga orangnya. Shintya sendiri adalah teman sekelas ku di 7A, dan aku sering mendengar cerita tentang pacarnya di sekolah lain. Jadi aku yakin bukan Rangga.

“Benerlah!” Jawab Rangga dengan bangga.

“Bukannya pacar dia dari sekolah lain?” Tanyaku.

“Betul, tapi kalau bisa selingkuh kenapa enggak, kik..kik..kik…” Jawab Rangga, sembari tertawa dan diikuti laki-laki lain.

“Kok mau dijadiin selingkuhan?” Tanya ku tak habis pikir.

“May, jangan terlalu polos gitu. Memang kamu kira laki-laki pacaran buat serius? Ya enggaklah” Jelasnya sambil terkekeh.

Aku tidak habis pikir dengan kaum laki-laki, sebenarnya apa tujuan mereka menjalin hubungan dengan perempuan, jika tidak ingin serius? Kenapa tidak berteman saja, jika ingin bermain-main. Apalagi anak seusia kami sebenarnya sedikit aneh membahas cinta, tapi hal itu malah sudah lumrah didengar.

“Laki-laki itu kalau buat pacar memang cari cewek yang sedikit centil May, biar bisa diapa-apain, tuh kayak Shintya, modelannya enak dijadiin pacar. Jadi selingkuhan pun gak papa”. Timpal bang Anggi, yang kebetulan duduk di sebelah Rangga.

“Kecuali cari istri, baru yang baik-baik. Makanya, kalau ada yang ngajak kamu pacaran, jangan bangga. Harus waspada! Bisa jadi dia ada maksud lain sama kamu, karena kalau serius dia nggak bakal pacarin kamu May” Ucap Rangga.

Aku terdiam mendengar ucapannya. Ternyata seperti itu pandangan laki-laki terhadap perempuan. Mereka tidak akan berani dan tidak akan mau mengajak perempuan terhormat melakukan perzinahan. Sejak hari itu aku tersadar bahwa ternyata pacaran banyak merugikan perempuan.

Sebagai catatan untuk perempuan, hati-hati ya. Punya banyak pacar atau mantan bukan suatu kebanggan, tetapi aib. Gak ada yang namanya cinta, jika dia masih mengajak pacaran. Kalau cinta, dia akan menghormati kamu bukan mengajak pacaran. Kalau sudah saat nya menikah, maka bukan lagi pacaran, tapi pernikahan yang dia segerakan.

Dan untukmu yang masih pacaran, ku harap segera sadar. Buatlah dirimu terhormat. Jangan sampai laki-laki yang bukan mahrammu bisa memiliki bahkan menyentuhmu hanya dengan kalimat “cinta”. Jangan biarkan mahkotamu jatuh hanya karena ungkapan cinta. Islam sangat memuliakan Wanita, jadi harusnya kita bisa memuliakan diri kita sendiri.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Isra ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

“Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.

Eka Nurmaya Dewi
(Penulis adalah Mahasantriwati Ma’had al-Jami’ah IAILE)

Tinggalkan Balasan