JANGAN MENUNDA HAK ORANG

Tahun 2022 adalah tahun yang memberikan banyak kesan bagi saya. Pada tahun itu, banyak sekali pengalaman yang berharga. Semua dialami. Mulai dari rasa senang, sedih, kecewa dan bahagia, Rasa-rasa itu selalu bergejolak. Saya sadar, itulah fase yang dirasakan oleh orang yang beranjak dewasa. Ternyata menjadi dewasa tak seindah yang dipikirkan. Dulu, sempat berfikir, “Nanti ketika dewasa saya bisa pergi kemana saja tanpa membebani orang tua”. Tapi ternyata realita tak seindah itu.

Suatu ketika, di pagi yang cerah, saya beranjak dari tempat tidur. Terdengar suara kicauan burung dan hewan lainnya. Menambah hiruk pikuknya pagi. Saat itu mulailah saya membuka jendela dan menghirup udara yang segar. Tak lama kemudian, hp berdering, ternyata ada sebuah notifikasi. Ketika dibuka, ternyata notifikasi itu berisi informasi lowongan pekerjaan. Awalnya, masih ragu-ragu untuk menerima pekerjaan tersebut. Tapi ketika setelah berdiskusi dengan orang tua, ternyata saya diberi izin untuk bekerja.

Pada bulan Desember 2022, saya dan kakak bersiap-siap untuk berangkat ke Pekanbaru. Kami berangkat menggunakan mobil. Memang waktu yang di butuhkan untuk sampai di tempat tujuan lumayan lama, yaitu hampir 7-8 jam. Setelah lama di perjalanan, mulai dari pukul 20.00 WIB, pada akhirnya kami sampai di Pekanbaru pada pukul 04.00 WIB. Perjalanan panjang membuat kami sangat lelah.

Setelah tiba, saya di jemput oleh sepupu dan pergi ke tempat tinggalnya yaitu di asrama yang saat ini saya tinggali (Ma’had al-Jami’ah). Mungkin ini terdengar agak sedikit aneh. Ketika saya bekerja, diberi izin untuk tinggal di asrama. Yang pastinya ini semua sudah di bicarakan oleh pihak yang bersangkutan untuk bisa tinggal di sini. Ini pertama kalinya saya tinggal di asrama. Di sini saya mulai banyak bertemu teman yang memiliki berbagai keunikan. Mulai dari karakter sampai pada sifat dan tingkah lakunya. Tapi saya merasa senang karna bisa bertemu dengan mereka. Memang butuh sedikit waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.

Pagi harinya, kami bersiap-siap untuk pergi ke tempat tujuan. Dimana saya harus menjalani interview terlebih dahulu. Sesampainya di tempat kerja, kami langsung bertemu dengan seorang ustazah dan ternyata ustazah tersebut adalah pimpinannya. Singkat cerita, saya pun diterima dengan baik.

Keesokan harinya, saya sudah mulai bisa bekerja. Ini adalah pengalaman pertama. Luar biasa. Ketika sampai di tempat kerja ternyata belum banyak yang datang karena memang waktu kerjanya di mulai pada pukul 07:30 WIB. Sementara saya datang sekitar jam 06.40 WIB. Hehehe…Maklum, anak baru. Terlalu bersemangat. Jadi saya pergi lebih cepat dari waktu yang di tentukan. Tak lama kemudian datanglah satu persatu karyawan yang bekerja di situ karna masih baru jadi saya hanya bisa tersenyum dan menyapa mereka.

Lagi-lagi saya mencoba untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tampaknya, kebanyakan yang bekerja di tempat itu umurnya lebih tua dari saya. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dengan lingkungan tempat kerja. Seperti tidak terlalu malu untuk bercanda, bercerita tentang banyak hal, dan lain-lain. Tapi entah kenapa hari demi hari banyak hal aneh yang saya rasakan. Saya merasa kalau orang-orang yang bekerja di situ kebanyakan merasa tertekan mulai dari ucapan yang tak enak di dengar dari mulut karyawan tentang bos pemilik usaha itu. Awalnya saya juga merasa heran karena setau saya bos pemilik tempat saya bekerja orangnya baik dan juga berkata lemah lembut ketika berbicara. Karena memang saya masih baru jadi masih banyak hal yang saya tidak tau.

Sebulan kemudian, saya merasa tidak nyaman dengan pekerjaan yang saya jalani. Ada banyak hal yang membuat saya tidak betah bekerja, mulai dari adanya peraturan yang aneh-aneh serta tindakan yang semena-mena terhadap karyawannya. Seolah-olah dia bisa memerintah sesuai dengan apa yang dia mau tanpa tau kalau kami sedang sibuk bekerja. Mulailah saya mengerti kenapa banyak yang tidak betah bekerja. Seperti sulitnya mengambil gaji yang mana batas waktunya sudah sampai satu bulan tetapi kami baru bisa mengambil setelah hampir satu bulan lebih. Seolah-olah kami dianggap seperti boneka, dimana untuk bisa mengambil hak kami butuh usaha yang lebih. Selain itu, waktu pulang tidak sesuai aturan, biasanya pukul 16.00, tapi di tempat itu, pukul 17.00 bisa jadi jam 17.30. Bahkan pernah pulang pukul 18.00 WIB, hanya di suruh menunggu dia pulang. Tanpa rasa toleransi dia bertindak semaunya. Di sinilah saya mulai merasa tidak betah untuk bekerja lebih lama lagi. Karna tindakan bos yang semena-mena dan hanya mementingkan diri sendiri.

Hari demi hari kami lalui, suasananya selalu saja sama. Saya mencoba bertanya kepada salah seorang ibu (salah satu rekan kerja) kenapa dia memilih kerja di sini? Ibu itu menjawab “tidak ada pilihan lain”. Jadi mau tak mau dia harus tetap bekerja di sini. Bahkan saya sendiri sudah merencanakan untuk resign.

Suatu ketika, pada siang hari, saat sedang berada di kantin, Ibu pemilik kantin menasehati saya, “Nak, pekerjaan itu biar gak terasa berat jangan terlalu di pikirkan, kamu cuma perlu menikmati dan mencintai pekerjaan yang kamu kerjakan sekarang maka semua itu tidak akan terasa berat” Jawabnya.

Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi saya dan kita semua. Mulai dari bagaimana tindakan kita terhadap karyawan, tingkah laku serta cara kita memperlakukan seseorang. Walaupun harta yang kita miliki lebih banyak dari orang lain, bukan berarti kita bisa bertindak seenaknya saja. Seolah olah uang bisa mengatur semuanya termasuk harga diri seseorang. Saya jadi teringat sabda nabi Muhammad saw yang mengatakan. Berikanlah kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering (HR.Ibnu Majah). Di sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa janganlah kalian menunda-nunda upah atau bayaran untuk pekerja atau karyawan.  Itulah alasan kenapa saya lebih menghormati orang yang berakhlak di bandingkan orang yang berilmu karna tidak semua orang berilmu memiliki akhlak yang baik.

Siti Patimah
(Penulis adalah Mahasantriwati Ma’had al-Jami’ah)

Tinggalkan Balasan