Belajar dari Bang Wahid

Pada suatu hari, seperti biasa, setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah di mushola Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Riau (LPMP), aku berjalan, melihat dan menikmati suasana pagi yang saat itu terasa sangat sejuk. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk di atas kursi yang terbuat dari besi, dan di atasnya menjalar pohon markisa yang terlihat sangat indah. “Hm…sejuk sekali udara ini” gumamku dalam hati. Sambil memetik tasbih, aku pun bershalawat kepada Nabi Saw dengan hati yang sangat senang, tenang dan tenteram.

Di saat-saat seperti itu, tiba-tiba datang dan duduk di dekatku seorang tuna netra, kebetulan ia merupakan qori kafilah Riau yang akan mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional di Sumatera Utara. Nama aslinya Wahid Uspa Abdurrahman, tapi akrab disapa dengan bang Wahid. Ia berjalan dibimbing oleh istrinya dengan penuh kasih sayang. Tidak lama kemudian, akupun bertanya kepadanya: “Apa yang abang rasakan duduk di sini?” dia jawab: “Di sini udaranya dingin, adem, tidak seperti di kamar yang pengap”. Dengan penuh penasaran, akupun bertanya kembali: “Bang, coba ceritakan ke saya, bagaimana bentuknya sebuah pohon”. Lalu ia jawab sambil tertawa: “Ah… saya tidak tahu bentuknya hehehe”. Melihat dia menjawab sambil tertawa, Saya dan istrinyapun ikut tertawa memecahkan keheningan pagi. Tidak lama setelah itu, ia pun bercerita tentang kampung halamannya yang konon katanya sangat adem dan telah ia rindui karena lama tidak pulang. Sambil mendengarkan ceritanya, dalam hati aku berkata: “Bang Wahid ini hebat. Dengan segala kekurangannya, ia tetap bersyukur dan menerima ketentuan tuhan. Sungguh aku merasa malu dengan diriku yang penuh dengan dosa ini. Terlebih lagi, bang Wahid ini mampu membaca al-Qur’an dengan nada dan suara yang indah. Sungguh di hadapan bang Wahid, aku hanyalah seorang yang awam”.

Setelah selesai bercerita, iapun meminta izin untuk pulang ke kamarnya sambil dipimpin oleh sang istri. Akupun mulai berfikir mengambil hikmah dari pertemuan itu. Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dan direnungkan bagi kita, di antaranya adalah bang Wahid itu penyabar dan sabar itu penting. Sejak lahir hingga dewasa, ia belum pernah diperlihatkan Allah keindahan dunia. Tapi tidak ada terdengar kata-kata keluhan dari lisannya. Hidupnya santai walaupun rintangan dan halanagan selalu menghampiri. Ia selalu optimis menatap masa depan.

Seharusnya, kita yang dikaruniai Allah organ tubuh yang sempurna, dapat berbuat lebih dari itu. Tapi karena keangkuhan diri, justru sebagian kita selalu melupakan kenikmatan mempunyai organ tubuh. Allah berikan mata, tapi tidak dipergunakan untuk melihat yang baik-baik, begitu juga telinga, tangan, kaki, dan lain-lain. Padahal Allah telah memperingati dalam al-Qur’an. Allah berfirman: “Sungguh dalam neraka Jahannam itu, kebanyakan penghuninya adalah jin dan  manusia. Mereka punya hati tapi tidak mau menggunakan hati ini (untuk memahami ayat-ayat Allah). Mereka punya mata, tapi tidak mau menggunakan mata ini (untuk melihat kekuasaan-kekuasaan Allah). Mereka punya telinga, tapi tidak mau menggunakan telinga ini (untuk mendengarkan ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternah, bahkan lebih sesat dari itu. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS. al-A’raf: 179). Melalui ayat ini, seharusnya manusia sadar, bahwa tujuan diberikannya hati, mata dan telinga oleh Allah adalah untuk merasakan kebesaranNya, bukan digunakan untuk kesenangan duniawi saja. Begitulah yang ditunjukkan bang Wahid, dengan ketidakmampuannya melihat, ia berusaha merasakan kebesaran Allah melalui organ tubuh lainnya. Sungguh, bang Wahid telah memberikan pelajaran yang berarti.

Andr, M.H.
(Penulis adalah Mudir Ma’had al-Jami’ah dan dosen tetap pada Prodi Hukum Keluarga Fakultas Syari’ah IAILE)

Tinggalkan Balasan